Jangan Main-Main Dengan Profesi Jurnalis

Dunia jurnalistik memang identik dengan wartawan. Wartawan, reporter, dan semacamnya sering juga disebut sebagai jurnalis.  Menjadi seorang jurnalis tidaklah mudah. Meskipun jurnalistik memiliki hak kebebasan pers, seorang jurnalis atau wartawan tidak bisa seenaknya menulis mengenai suatu hal. Karena jurnalistik memiliki aturan dan kaidah yang harus ditaati.

Seorang wartawan sejatinya harus mengetahui, memahami, dan menaati Kode Etik Jurnalistik juga Undang-Undang tentang Pers. Jika seorang wartawan sudah berpegang teguh pada Kode Etik Jurnalistik, niscaya semua akan baik-baik saja selama kode etik tersebut tidak dilanggar.

Hal itu juga merupakan salah satu cara untuk menjadi wartawan yang andal. Seorang wartawan andal tidak hanya pandai melaporkan kejadian, ia juga harus pandai dalam menggali fakta. Namun, sejauh apapun ia menggali, seorang wartawan andal tidak boleh lepas dari Kode Etik Jurnalistik.

Jam kerja wartawan seringkali disebut tidak kenal waktu. Kapanpun ada peristiwa, ia harus sigap menuju TKP (Tempat Kejadian Perkara), mencari data dan fakta, kemudian melaporkannya. Wartawan yang andal tidak akan cukup sampai di sini. Ia tidak hanya sekadar melaporkan, ia akan mencari angle yang unik dan menarik agar tulisannya dibaca orang-orang.

Seorang wartawan harus memiliki sikap tidak mudah menyerah. Seorang wartawan mengemban misi penting, seperti menyampaikan kebenaran, mengkritisi kebijakan yang salah, ketidakadilan yang terjadi, dan kebobrokan moral. Bagaimana jadinya bila wartawan mudah menyerah? Tentu tidak akan ada berita yang berbobot pada koran dan tv, kebenaran yang disampaikan mungkin hanya setengahnya saja atau bahkan tidak ada kebenaran sama sekali, tidak berani mengkritisi kebijakan yang salah, tidak berani berbicara mengenai ketidakadilan, dan kebobrokan moral.

Selain itu, wartawan juga dituntut untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya. Untuk mewujudkan itu, dibutuhkan kerja keras dan kemauan tinggi. Ketika wartawan tidak mendapat informasi dari narasumber, atau narasumbernya berkata “No Comment”, seorang wartawan andal akan memutar otak mencari cara bagaimana ia tetap bisa mendapat informasi selain dari narasumbernya ini.

Sikap tidak mudah menyerah ini sangat diperlukan untuk menembus narasumber. Entah untuk meminta waktu wawancara, mengakali mendapatkan informasi eksklusif dari narasumber, atau narasumber yang tidak mau memberikan informasi alias “tutup mulut”.

Tidak hanya dukanya saja, menjadi seorang wartawan tentunya juga memilikiberbagai keuntungan. Seperti pergi-pergi ke tempat tertentu gratis, memiliki akses mengunjungi tempat tertentu, memiliki hak-hak tertentu yang tidak dimiliki profesi lain atau masyarakat biasa, bertemu orang, artis, sampai pejabat penting, dan masih banyak lagi.

Bagaimana, tetap semangat menjadi wartawan profesional?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s