Captain

Sore itu, langit menampakkan guratan-guratan warna jingga. Senja memang karya Tuhan paling indah. Begitu juga dengan orang disampingku. Kami sama-sama menyukai langit, apalagi langit senja.

Kami menghabiskan sisa hari ini dengan duduk berdua memandangi langit, sebelum esok hari ia ditugaskan terbang ke Turki, sementara aku masih harus berlatih terbang dengan instruktur.

Senang sekali rasanya bisa menyandarkan kepala di bahunya, seolah beban terangkat begitu saja. “Sukses ya ujiannya besok. Kamu harus latihan serius, ikutin kata instruktur, biar bisa cepat solo flight,” ujarnya, yang kubalas dengan anggukan kepala berkali-kali.

Malam itu kuhabiskan dengan mati-matian mempelajari salah satu bagian sistem kemudi pesawat yang kurang kupahami. Satu jam kemudian, ia menelepon, ia tahu aku kesulitan mempelajari bagian itu. Ia menawarkan untuk pura-pura terbang bersamanya melalui telepon, dengan ia berpura-pura menjadi instrukturku, padahal ia harus istirahat karena besok memiliki jadwal terbang pagi. Tiga puluh menit berlalu, “ujian pura-pura” ku berjalan dengan lancar. Pukul 23.00 aku menutup telepon dan menyudahi “ujian pura-pura” itu karena aku merasa mengantuk.

Aku terbangun pukul 3 pagi, “Masih dini hari rupanya,” ujarku kepada diri sendiri. Aku menelepon dia, ingin memastikan apakah ia sudah berangkat atau belum. Tidak diangkat, mungkin sedang sibuk bersiap-siap, pikirku.

Pagi itu, tumben sekali aku tidak bisa tidur lagi. Kuputuskan untuk mengulang materi semalam sembari menunggu fajar terbit.

Ponselku berbunyi, “Aku berangkat ya, sukses ujiannya! Ayo pergi ke tempat biasa setelah aku pulang.”

Segera kubalas pesannya, “Roger, Capt! Semoga instrukturku hari ini ngga galak ya hihi. Kutunggu kamu pulang segera.” (Roger = siap)

Tidak dibalas lagi, sepertinya ia sudah take off. Dalam keseharian kami, kalau aku atau dia bilang “berangkat” itu artinya akan segera take off.

“Papa Kilo One Two Five, position 32 Right, runway ready, permitted to take off” 15 menit berlalu, ujianku masih berjalan dengan lancar.

Setengah hari aku lalui dengan sedikit cemas, takut kalau aku salah langkah dalam ujian tadi. Sore menjelang, aku masih berada di Bandar Udara Budiarto, tempatku berlatih sekaligus ujian tadi.

“Gimana penerbanganmu hari ini, Mas?” ujarku dalam hati sambil memandangi langit sore yang siap berganti gelap.

Aku kembali ke asrama dengan bangga, karena berhasil mendapat nilai yang cukup pada ujianku hari ini. Tapi tidak dengan teman-temanku di asrama, raut wajah mereka cemas, panik, sekaligus sedih.

“Pesawat Seven Air MH-320 menghilang dari radar saat berada di Laut Cina Selatan pada pukul 16.30 WIB. Pesawat berada di ketinggian 20.000  kaki atau 6000 meter diatas permukaan laut saat terakhir terlihat di radar. Pesawat yang berangkat dari Bandara Soekarno Hatta, Tangerang ini dijadwalkan tiba di Bandara Ataturk, Turki esok hari pukul 2 pagi. Sampai berita ini diturunkan, belum ada kabar lebih lanjut mengenai MH-320 ini.”

Suara pembaca berita itu terngiang-ngiang ditelingaku. Lembaran-lembaran nilai ujianku hari ini lepas begitu saja dari tanganku. Rasanya antara percaya tidak percaya. Baru tadi pagi ia mengirimkan pesan padaku untuk pamit berangkat dan berjanji akan segera pulang.

Dua hari berlalu, masih belum ada kabar jelas mengenai hilangnya MH-320 ini. Teman-temanku silih berganti menghiburku dan ikut mendoakan agar semua penumpang dan kru selamat.

Kenyataannya, doa itu tidak terkabul. Seminggu kemudian, berita televisi mengumumkan bahwa pesawat Seven Air MH-320 dinyatakan jatuh di Laut Cina Selatan, semua penumpang dan kru tidak ada yang selamat.

Sungguh aku ingin menangis. Aku sedih, aku panik, aku sangat sedih. Tapi aku tidak bisa menangis, tidak tahu kenapa.

Dua bulan berlalu, aku menghadiri upacara pemakaman Captain Andy. Ya, dia kekasihku, sahabatku, kakakku, partnerku, harapanku. Aku baru bisa menangis saat melihat peti matinya perlahan dimasukkan ke liang lahat. Aku seperti ditampar kenyataan, aku baru sadar, Andy-ku sudah jauh di sana. Aku baru sadar, aku tidak punya partner untuk latihan terbang sungguhan maupun pura-pura lagi. Aku baru sadar, aku tidak bisa menunggunya pulang lagi.

Sore itu ternyata senja terakhir yang aku liat bersama “kaptenku”. Malam itu ternyata malam terakhir aku mendengar suaranya. Dan pagi itu, ternyata dia pamit untuk pergi selamanya dan tidak akan kembali.

Pada suatu senja, seseorang menepuk pundakku.

“Selamat, ya, kamu berhasil diterima di maskapai itu. Aku bangga sekali,” ujarnya sambil mengacak-acak rambutku.

“Mas….. kamu…..???”

Advertisements

2 thoughts on “Captain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s